Amarah

Ragu 

Hari ini ku tulis ini dengan keraguan. Akan masa depan dan susah senangnya kehidupan. Sehari-harinya melihat beragam-ragam kehidupan yang dijalankan orang lain, mereka melakukan kegiatannya yang membosankan setiap hari, sama sepertiku. Waktu terus berjalan, dengan hanya mengikuti alur yang dialiri oleh detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun, tetapi apakah ini yang ku inginkan? Sebuah kehidupan tenang yang dikelilingi orang-orang yang saling berbagi kata-kata dan kalimat, sedang bercanda tawa ria, dimana kita hanyalah menjadi sebuah tokoh yang mengikuti waktu. Apakah semua ini akan berubah?

Dewasa. Aku tak ingin menjadinya tetapi waktu terus menerus mengalir. Aku ingin dewasa, kata ku karena aku hanya ingin melarikan diri dari kegundahan dan semua kenangan buruk. Aku ingin berubah, tetapi itu hanyalah sebuah kata-kata dalam hati yang tak dapat diaksikan oleh ragaku. Lupakan! lupakan! lagi pula kehidupan ini akan terus mengalir sendirinya, besok kamu akan lupa tentang kenangannya. 

Seorang guru memiliki pengalaman yang lebih dari pemuda-pemudi, "ayo maju ke depan, tidak perlu takut, ini hanya sesaat, besok kamu akan lupa" katanya. Tapi aku hanyalah aku, si gadis dengan keraguan yang berjuta-juta kali menghantam jiwa. Besoknya, menyaksikan orang-orang yang berbeda, dengan kepercayaan diri yang berjuta-juta kali di dalam geraknya. Dibandingkan mereka, aku ini apa? Ayolah, lupakan lagi, aku menjadi lebih buruk dengan sikap yang biasa saja.

Sahabat

Sekelompok manusia yang saling bergantung, entah itu menguntungkan dan merugikan, mereka orang-orang yang tidak peduli! Hey, lagipula kami saling mengenal satu sama lain. Tidak akan ada yang bisa menganggu pertemanan kami. Tapi aku takut, tidak semua manusia akan menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Aku percaya, jika kita saling mengerti bukankah lebih mudah untuk menerima segalanya? Kadang terlalu sadis dan jahat, aksi-aksi persahabatan yang terlalu gila membuatku sedikit terganggu. Aku tidak suka keributan. Manusia yang berbeda dikumpulkan, lebih berwarna, aku harap kalian yang terbaik.

Kata ku, anak kecil terlalu mudah untuk diperdaya. Aku hanya dimanfaatkan, mereka hanya menginginkan sesuatu dariku. Betapa polosnya sampai membuat kepala melayang. Tapi aku yang tidak tahu juga sangat aneh. Aku hanya butuh perlindungan, bocah yang berlindung di belakang tokoh pemberani, memberi manfaat di belakangnya, tapi kadang juga dilupakan. Lagi, aku memberi, akhirnya ku dapatkan pertemanan, tapi berubah lagi, mereka punya teman baru yang lebih menyenangkan. Melarikan diri, aku tak peduli! Sebuah teknologi baru pun datang, inilah keseruan baru ku, berteman dengan orang-orang yang bahkan aku tak tahu rupanya, ada di dunia maya. Datanglah mereka lagi, ingin diperkenalkan ke dunia itu. Dengan senang hati! Aku juga ingin bermanfaat bagimu, tapi sebenarnya aku ini sangat pengecut. Yang bahkan tak bisa jujur pada diri sendiri. Mendesah, aku pikir sahabat kecil macam apa itu.

Remaja sangat memuakkan. Aku tidak percaya persahabatan lagi. Jadi ayolah berteman biasa, walau sejumlah aib kau ketahui, tak apa, lagipula aku tak ingin mencolok di matamu. Pernah ku percaya, aku pikir kita sudah cukup akrab, nyatanya ku buka lembaranmu, kau membicarakanku. Yah, aku menyerah, sebenarnya aku tak ingin mencolok sampai kau bicarakan begitu. Aku pasrah dengan diriku yang pernah sedih akan itu, pengalaman sukar yang selalu akan diingat. Perpisahan yang mengharukan tetapi masih ada menyembunyikan. Maafkan aku yang punya kekurangan ini, semoga kita terus mengingat, walaupun hanya aku yang mengambil jalan yang berbeda ini. Bertemu sekali lagi, aku yakin kamu pernah membicarakanku lagi, dengan banyak kata-kata yang masih kau pendam, tak apa, kalian baik! Aku suka kalian, jadi ku doakan kita menjadi lebih kuat di kemudian hari.

Telah bertemu dengan beragam-ragam sifat manusia membuatku sedikit paham akan kehidupan. Akhirnya kami dipertemukan, manusia-manusia yang sangat berbeda, tapi sedikit juga campuran dari sebelumnya. Ah, aku bisa membaca semuanya. Ku pikir pengalaman sangat berharga. Aku lebih bisa mengerti perwatakan manusia. Kali ini aku tak mau kalah. Akan ku temukan sahabat sejati sejujurnya! Sahabat yang bukan hanyalah sebuah kata. Nyatanya kadang juga membuat susah. Cemburu, iri, kecewa, marah, muak, bosan, dan semuanya sudah kualami. Tak mau berpikir jauh, ku anggap mereka teman sekolah. Mungkin ini yang terbaik, aku tak mau sakit hati. Aku ini hanyalah pendiam yang suka menyimpan semua pemikirannya di otak dan melupakan. Jadi tak apa, kalian membuatku bagaimanapun, akan aku lupakan. Kadang menjadi biasa juga menyenangkan, dikelilingi oleh manusia-manusia yang berbeda dan saling berbagi pengalaman itu juga berharga. Aku sangat bersyukur. Kita semua memiliki hal-hal yang dipendam dan tak bisa kita bicarakan di depan, itu wajar. Mungkin seperti itulah manusia. Semoga kita baik-baik saja.

Aku tak bisa mempercayai orang dengan mudah, jadi akan susah menganggap seseorang sahabatku. Aku takut, aku resah, aku yang selalu memikirkan hal terburuknya. Pemikiran ku selalu terlalu jauh, walaupun selalu ku lupakan di kemudian. Sekarang aku cukup tenang, lagipula kita sudah cukup melakukan hal yang menyenangkan, jadi menurutku inilah yang terbaik. Waktu kita tinggal sedikit, tapi aku yakin kita masih bisa berkembang. Satu tahun lagi, walaupun kita berpisah, kita akan selalu ingat kenangan yang singkat ini. Berbagai pengalaman dan pemikiran yang telah kita bagikan. Tapi memikirkan tentang masa depan membuat kita tak habis pikir. Kadang takut dan seperti dikekang, kita tetap harus maju. Ayo berjuang bersama teman-teman!

Keluarga

Keluarga yang sangat sederhana. Sekumpulan manusia yang terikat darah oleh sekedar perkawinan. Saling mencintai dan menyayangi, namun juga punya harga diri yang tinggi untuk mengungkapkan. Keluarga ku yang sederhana, semakin bertambah tua, semakin bertambah tinggi pula harga diri ini. Malu untuk mengungkapkan rasa sayang. Bukan hanya sekedar kontak fisik, membagikan masalah juga sangat susah diungkapkan. Rasanya serba salah. Dalam rumah hanya diam di kamar masing-masing. Mungkin hanya aku yang menjauh dari mereka. Rasanya aku ingin menangis untuk mengungkapkan perasaan sayangku. Aku tak tahu bagaimana caranya. Saling mengerti perasaan masing-masing, mungkin karena orangtua yang memiliki pengalaman hidup yang lebih dariku, jadi mereka bisa memahami.

Aku ingin menjadi diri kecilku dulu, yang dengan mudah meminta pelukan dan berbicara seenaknya di depan mereka. Sekarang semuanya dibalikkan. Aku yang bertumbuh selalu diberikan cobaan. Ku pikir aku kurang diperhatikan semenjak aku mulai memasuki remaja. Rumah menjadi semakin dingin. Kadang mengurung di dalam kamar, apakah aku ingin melarikan diri dari mereka? Aku tak ingin dimarahi. Aku sudah muak oleh perkataan mereka. Aku hanya butuh kasih sayang, itu saja padahal. Setiap ku menangis, selalu diberikan luka lebih. Tak ada hari tanpa kata-kata yang menyakitkan. Ini bukan salah ku, yang tua selalu disalahkan. Aku menjadi malas melakukan apa-apa. Aku yang melakukan kesalahan tak pernah diberikan semangat untuk memperbaiki. Aku tak pernah diberikan kebebasan untuk memilih jalanku. Aku yang sedang berjuang tak pernah dikasih dukungan. Aku ini apa? Aku juga perlu orang yang menyemangati ku di rumah, agar aku selalu kuat.

Aku iri dengan keluarga yang hangat. Saling berbagi pelukan, salalu memberi dukungan, selalu menyemangati. Mereka yang seperti itu, setiap hari akan terlihat sangat bahagia. Keluarga yang sempurna. Akan ku buat keluarga masa depan ku seperti itu. Keluarga yang dikelilingi kehangatan. Ibu yang bisa memahami anaknya.

Tapi sekali lagi ku pikir, aku harus bersyukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan. Dibandingkan diriku, masih banyak keluarga-keluarga lain yang bisa lebih buruk. Masalahnya disini hanyalah sifatku. Walaupun masih banyak kekurangan, kita manusia tidaklah sempurna. Maka akan selalu ku doakan sepanjang masa, ampunilah dosa kedua orangtuaku, sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu aku kecil.

Masih banyak anak-anak yang membutuhkan kasih sayang keluarganya. Aku yang seperti ini telah sakit hati, aku ini lemah. Maka akan ku buktikan, aku akan menjadi seorang yang kuat dan terus berjuang. Hingga suatu saat, aku akan memberikan kehangatan kepada orang lain. Terus berjuang hingga ku dewasa sampai aku memiliki keluarga ku sendiri. Sampai saat itu, aku akan terus membutuhkan perhatian dan kehangatan mereka.

Aku sayang keluargaku. Lidahku selalu dibekukan jika ingin memberitahu. Memikirkannya saja telah membuat sekujur tubuh ini merasa aneh. Kata mereka, mata dan hati tak bisa dibohongi, maka itu benar. Sebanyaknya air mata yang ku tahan, dan terus berlinang di mata ku, tak dapat dibohongi. Jika kau memintaku memberitahu hal tersebut, aku tak akan tahan. Semuanya terlalu aneh di ragaku. Saat semuanya berkumpul, terkadang kehangatan yang diberikan membuat hati ini bergetar dan rasanya sangat sakit. Perhatian yang diberikan membuat jiwa ini dihantam berbagai perasaan kuat. Setiap kontak membuat sarafku yang mengirim halnya ke otakku dan diterjemahkan sangat aneh. Aku lah sang manusia canggung akan semua ini.

Pemikiran ku yang terlalu jauh ini, kadang juga butuh dilampiaskan. Maka satu atau dua topik akan aku bicarakan. Sekedar imajinasi dan keinginan, walau ku tahu akan terlalu lambat dikabulkan. Kadang ku keluarkan amarah ku kepada mereka, disini aku menjadi diriku yang sebenarnya. Jika aku marah, maka aku menangis. Semua kata-kata jahat yang ku lontarkan hanyalah pemikiran sesaat. Jangan terlalu dipikirkan. Tapi hal yang kecil kadang dibuat besar dan selalu dibahas sepanjang hari. Aku juga tak bisa menahan diriku. Maka kami memiliki sifat yang sama, kami memang keluarga.

Hal yang kuinginkan sekarang, sebentar lagi aku akan berjuang sendiri tanpa mereka di rumah. Aku hanya butuh dorongan untuk terus maju dan agar aku tak goyah. Aku butuh kepercayaan diri yang kuat agar aku bertahan. Sebentar lagi semuanya akan menjadi lebih dingin tapi jika berkumpul, aku ingin merasakan bagaimana rasa rindunya. Sekarang aku hanyalah seorang remaja yang tak tahu arah tujuan. Suatu saat, diselipkan dengan doaku, aku akan membuat kalian bahagia. Sejujurnya aku tahu kita saling menyayangi tapi juga malu untuk mengungkapi. Percayalah semua yang ku ingin lakukan dari sekarang adalah agar keluarga ku selalu sehat dan bahagia. Aku bersyukur terlahir di keluarga ini.



--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gaje yakk? :v emang. Ga tau kenapa nulis ini tiba-tiba kepikiran mau ngetik, lah malah ginian. Hanya orang-orang tertentu nih yang ngerti ketikan aku ini. Jangan terlalu dipikirin lah pokoknya. Lagi gaje nih, sekaligus bingung juga. Lagi kesel juga enggak sih, tapi aku juga lupa alasan ngetik ginian tadi. Tiba-tiba aja. Gapapa deh. Bahasanya gitu amat lagi. Yakin aku mah nanti baca tulisan ini malah cringey sendiri.
Previous
Next Post »